Selasa, 15 Juni 2010

pemenang hadiah UTAMA fotografi Pulitzer Prize - KEVIN CARTER

Kevin carter.


Salah seorang wartawan yang mati bunuh diri. Sedikit kisah beliau yang saya baca dari salah satu majalah, memancing saya untuk mencari kisahnya lebih banyak lagi. Berikut adalah beberapa karya fotonya di daerah konflict.



Berikut adalah kisahnya dan beberapa foto di atas adalah karyanya. Sedangkan foto terakhir tersebut merupakan foto yang membuatnya mendapatkan award.


Maret 1993, Kevin carter berangkat dari Afrika selatan menuju Sudan untuk membuat liputan tentang pemberontakan yang terjadi di negara itu. Namun, sesampainya di sana, Kevin menemukan bahwa pemberontakan bukan masalah terburuk, namun kelaparanlah masalah utama di daerah tersebut.


Ketika mengunjungi sebuah kampung, tiba-tiba kevin mendengar rengekan anak-anak yang membuat langkah Kevin terhenti. Setelah dia mencari dan memperhatikan sekeliling, Ia menemukan seorang anak perempuan sedang duduk bersujud di atas tanah tidak jauh darinya. Anak yang menangis tidak mengenakan pakaian tersebut sedang duduk melepaskan lelah karena tidak berdaya lagi untuk berjalan ke pusat bantuan makanan. Si kecil itu menangkupkan kepala ke tanah dan memejamkan mata. Nafasnya lemah dengan tulang-tulangnya yang menonjol. Tidak jauh darinya, tampak seekor burung pemakan bangkai sedang berdiri memperhatikan anak tersebut. Namun Kevin tidak segera mengambil kameranya, tetapi menunggu sang burung meninggalkan anak itu. tetapi setelah dua puluh menit menanti, burung itu tak juga pergi, Kevin segera mengambil gambar anak tersebut dan bergegas berlalu ke tempat lain. (gambar ke empat)


Gambar itu dijualnya kepada majalah NEW YORK TIMES dan pada tanggal 26 Maret 1993, gambar tersebut diedarkan. Tanpa di duga, hari itu juga meja redaksi majalah tersebut tidak putus-putus menerima panggilan dari para pembaca yang menanyakan tentang anak kecil itu. Sang pengarang yang merupakan redaksi majalah tersebut menyatakan bahwa, anak itu tidak menjadi mangsa buruk itu, tetapi nasibnya tidak diketahui setelah itu.


Setahun kemudian, tanggal 2 April 1994, Kevin mendapat telephon dari redaksi NEW YORK TIMES, bahwa gambarnya telah dipilih sebagai pemenang UTAMA fotografi Pulitzer Prize. Kevin menerima penghargaan itu tanggal 23 Mei 1994 di Colombia university, AS. Namanya melonjak, hadiah tersebut merupakan anugerah tertinggi dalam karier wartawan. Namun, dua bulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1994, dunia kewartawanan dihebohkan oleh berita kematiannya.


Kevin mati bunuh diri. Mayat Kevin ditemui di dalam truk di tebing sungai Braamfonteinspuit, Afrika selatan. Dia bunuh diri dengan cara menyalurkan asap dari ekzoske dalam kendaraanya. Di sisi mayatnya ditemukan selembar catatan yang bertuliskan :

"AKU TERTEKAN..TIADA TELEFON..DUIT SEWA..DUIT UNTUK MEMBANTU ANAK-ANAK..HUTANG..DUIT!!!! AKU DIHANTUI INGATAN-INGATAN YANG MENAKUTKAN TENTANG KEMATIAN,

MAYAT, KEMARAHAN, KESAKITAN.. ANAK-ANAK YANG KELAPARAN DAN LUKA, ORANG YANG GEMBIRA APABILA MELAKUKAN PENGRUSAKAN, BIASANYA POLISI, SI PEMBUNUH.. AKU INGIN PERGI UNTUK MENYERTAI KEN, ITU PUN KALAU AKU BERNASIB BAIK."


Ken Oosterbroek, merupakan sahabat baik kevin. Dia terbunuh sebulan sebelum ke Tokaza, akibat tertembak secara tidak sengaja saat merekam gambar pertempuran.


Menurut sahabat-sahabat kevin, setelah mengambil gambar anak-anak kelaparan di Sudan, Kevin dihantui pemandangan tersebut. kevin duduk di bawah sebatang pokok dan menangis tak henti-henti. Dia tertekan dan berusaha untuk melupakan kejadian itu, namun semuanya gagal. Kecaman dari berbagai pihak yang marah karena dia tidak membawa anak-anak itu ke pusat makanan sebaliknya hanya mementingkan profesinya melebihi naluri kemanusian hakiki, yang menambah tekanannya.


Kevin telah berusaha menjelaskan bahwa dia tidak berani menyentuh anak-anak tersebut karena ia takut terjangkit berbagai penyakit, namun kecaman yang diterimanya terlalu berat untuk ditanggungnya, ditambah lagi dengan masalah keuangan yang menghimpitnya, akhirnya ia membunuh diri.


Cukup berat memang menjadi wartawan di daerah konflict, karena keadaan yang begitu tragis di daerah tersebut membawa dampak yang cukup besar untuk diri sendiri.


Berikut adalah wajah sang pemenang Pulitzer tersebut - Kevin carter